Amanah

  Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan...

Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik. Begitu kata beberapa politisi negeri ini. Tapi apa itu tahun politik? Jika merujuk pada konteks peredaran istilah...

MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  Setelah kita membahas empat contoh bentuk pengkhianatan kepada doa sendiri, akan kita bahas poin lain agar kita mau berusaha sesudah kita berdoa...

Bincang Natal

  1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an (kristolog Jogja -red); "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita...

Nostalgia Kedua

Ini masih tentang gugatan seorang mahasiswa bahwa kisah tentang peradaban Islam yang katanya tidak lebih dari nostalgia masa lalu Islam yang dulu...

  • Amanah

  • Tahun Politik

  • MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  • Bincang Natal

  • Nostalgia Kedua

Articles

Memilih Taqwa Ketimbang Harta

ahmedfikreatif.wordpress.comSejak kecil, Said bin Musayyab telah hidup dengan keluhuran dan keagungan. Seluruh hidupnya memang dijalani dengan penuh pengabdian kepada Allah swt. Bermula dari mencari ilmu kepada para sahabat Rasul yang mulia lalu menginjak usia remaja dia mulai berdakwah kepada masyarat banyak. Karena itu, dia menjadi teladan bagi para remaja, baik dalam soal kedalaman ilmunya, keagungan akhlaknya bahkan keberaniannya dalam menghadapi kemunkaran.

Suatu ketika, Raja Abdul Malik melamar anak perempuan Said untuk dinikahkan dengan anaknya yang bernama Walid. Karena Walid tidak nampak sebagai orang yang bertaqwa, meskipun kesenangan duniawi pasti akan diperoleh anak perempuannya, Said tidak menerima lamaran sang raja.

Karena lamarannya tidak diterima, tentu saja sang raja tersinggung sehingga dia sangat marah terhadap Said. Sebagai salah satu bentuk kemarahannya, Said harus menerima hukumannya. Hukuman yang diterima Said adalah dipukul seratus kali lalu diguyur dengan air dingin, padahal saat itu musim dingin sangat mencekam. Meskipun sudah mengalami siksaan yang cukup pedih, Said tetap pada pendiriannya yakni tak mau menerima lamaran sang raja.

Lalu dengan siapa sang anak dinikahkan? Suatu ketika, Kasir bin Abu Wada’ah, murid setianya Said yang tak pernah absen dalam pengajian-pengajian tiba-tiba tak muncul-muncul dalam beberapa hari. Tentu saja Said mencari dan menanyakan, kemana saja sang murid itu. Sewaktu Kasir berjumpa dengan gurunya itu, Said bertanya: “kemana saja kamu selama ini?”.

“Isteriku baru saja meninggal dunia dan aku sangat berduka atas kematiannya”, jawab Kasir.

“Apakah kamu mau menikah lagi?”, tanya Said lagi.

“Wanita mana yang mau menjadi isteri ku, seorang laki-laki miskin”, jawab Kasir, merendah.

“Aku akan menikahkan engkau kepada anakku”, jawab sang guru. Lalu dinikahkanlah Kasir kepada anak perempuan Said dihadapan sahabat-sahabatnya.

Setelah resmi dinikahkan, Kasir merasa bingung untuk mencari uang guna sempurnanya pernikahan itu. Kasir terus melamun sampai akhirnya dia pulang menjelang maghrib untuk berbuka puasa, karena pada hari itu dia sedang berpuasa sunat. Saat hendak berbuka, terdengar orang memberi salam dan mengetuk pintu, Kasir bertanya: “Siapa itu?”.

“Aku Said”, jawabnya jelas.

Mendengar jawaban itu, Kasir menjadi semakin heran, sebab dia tidak membayangkan kalau Said, guru yang kini menjadi mertuanya datang. Ketika pintu sudah dibuka, Siad berkata kepada menantunya: “kamu hidup sendiri, sedang aku telah menikahkan kamu, aku tidak suka kalau kamu sendirian malam ini, maka aku antarkan isterimu”.

Begitulah Said telah memilih taqwa daripada harta bagi anaknya. Apa yang dilakukan Said hanyalah karena ingin mendapatkan ridha dari Allah swt, karena itu dia menjadi seorang ulama yang sangat dihormati, juga ditakuti melebihi seorang raja. Dia juga sangat dicintai oleh masyarakat sebagai seorang ulama, meskipun dia tidak disenangi oleh sang raja. Dalam usia 84 tahun, Said meninggal dunia dalam keadaan sangat rindu untuk berjumpa dengan Allah swt.

 

          Pelajaran yang kita ambil dari kiisah di atas adalah:

 

1.    Taqwa merupakan sifat yang membuat manusia menjadi mulia.

2.    Dalam memilih jodoh, setiap muslim termasuk orang tua harus mengutamakan orang yang bertaqwa daripada orang yang berharta.

Share this post

Submit to FacebookSubmit to Twitter
bannerMuballihgMuballighah