Amanah

  Amanah secara etimologis berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan...

Tahun Politik

Tahun 2014 adalah tahun politik. Begitu kata beberapa politisi negeri ini. Tapi apa itu tahun politik? Jika merujuk pada konteks peredaran istilah...

MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  Setelah kita membahas empat contoh bentuk pengkhianatan kepada doa sendiri, akan kita bahas poin lain agar kita mau berusaha sesudah kita berdoa...

Bincang Natal

  1. Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi'an (kristolog Jogja -red); "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita...

Nostalgia Kedua

Ini masih tentang gugatan seorang mahasiswa bahwa kisah tentang peradaban Islam yang katanya tidak lebih dari nostalgia masa lalu Islam yang dulu...

  • Amanah

  • Tahun Politik

  • MENGKHIANATI DOA SENDIRI(2)

  • Bincang Natal

  • Nostalgia Kedua

Articles

Ad-Dahr: Tentang Waktu

Ketika meneliti gagasan tentang waktu dalam sufisme Persia, Gerhard Böwering mengatakan bahwa waktu menggelincirkan dan mengikis kesadaran kita terus-menerus. Waktu memaksa kita merasa bahwa masa kini adalah nyata sedangkan masa lalu dan masa depan tidaklah nyata. Masa silam tidak ada dan masa depan belumlah datang. Manusia memang selalu berada dalam himpitan masa lalunya dan masa depannya. Sering terjadi masa lalu adalah wilayah yang tidak dipahami dan karena itu, wilayahnya menjadi gelap. Sedangkan masa depan tidak mudah ditebak. Oleh sebagian orang, keadaan seperti ini membuat mereka terlena dan membiarkan itu apa adanya. Kebutaan mereka tentang masa lalu mereka biarkan tanpa upaya untuk memahaminya. Karena itu, kemampuan mereka untuk membaca masa depan sangat terbatas. Karena pada dasarnya kemampuan untuk memahami masa lalu adalah bahan satu-satunya untuk membaca dan memprediksi masa depan. Kegelapan masa lalu membuat masa depan juga gelap dan cara teraman kemudian adalah hidup semata-mata untuk masa kini, saat ini.

Kesadaran bahwa yang nyata hanyalah masa kini sedangkan masa lalu dan masa datang adalah ilusi merupakan persoalan besar karena masa lalu dan masa datang menentukan masa kini. Ketika Umar bin Khattab menetapkan penanggalan kalender hijriah—bukan dari tahun kelahiran Nabi Muhammad atau dari tahun turunnya wahyu pertama—, pertimbangannya adalah persoalan momentum yang terjadi di masa lalu. Momentumnya adalah ketika kaum Muslim mulai menjalankan rencana Ilahi dalam sejarah dengan menjadikan Islam sebagai realitas politik karena Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh umat beragama harus mengemban tugas menegakkan masyarakat yang adil dan merata.

dykapede.files.wordpress.comMasa depan juga adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan dari kesadaran. Jika itu hilang maka kita akan sama dengan kaum kafir Quraisy yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw. dan berkata: Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? (QS. Al-Israa/18: 49). Kita akan menemukan gugatan-gugatan serupa di dalam ayat-ayat lainnya seperti QS. al-Isrâ/18: 98, QS. al-Mu’minûn/23: 35 dan 82, QS. as-Shaffât/37: 16 dan 53, QS. al-Wâqi`ah/56: 47, dan QS. an-Nâzi`ât/79: 11

Kaum kafir Quraisy ini adalah contoh kehidupan yang kehilangan orientasi masa depan hingga mereka memandang hidup itu hanya kini dan saat ini. Bagi mereka hidupan setelah kematian seperti peta buta, tak terbaca. Secara khusus mereka menyebut konsep waktu mereka dengan dahr yang mereka anggap sebagai sesuatu yang mutlak menentukan hidup dan mati mereka.

Menurut Effat al-Syarqawi, orang Arab jahiliyyah hampir-hampir tidak mempunyai konsep tentang permulaan sejarah. Sebaliknya, perhatian terhadap akhir sejarah cukup besar. Konsepsi itupun bersifat individual, seperti problema kematian.

Menurut kebanyakan teks-teks dari zaman jahiliyyah, kematian merupakan ketentuan pasti yang tidak bisa dihindari: “Lari seseorang tidak akan pernah melampaui ajalnya”. Dengan demikian, waktu adalah simbol kesirnaan. Jadi, dengan semakin berlalunya waktu, kehidupan seseorang pun semakin mendekati ajalnya. Di sinilah kata ad-dahr menjadi kata dalam bahasa Arab yang paling erat kaitannya dengan ide kematian dan mengandung makna-makna kekurangan, penderitaan, dan ketidakmampuan untuk merealisasikan cita-cita.

Selain ad-dahr, ada kata-kata lain yang menunjukkan waktu seperti az-zamân. Menurut Effat—mengutip Lisân al-`Arab—sama dengan ad-dahr, az-zamân juga memandang waktu dari sudut kesulitan, sakit, dan penderitaannya. Kata al-hîn juga demikian. Bahkan kata al-hîn jika diganti harakatnya menjadi al-hayn, maka akan berarti hancur. Hampir semakna dengan itu adalah kata al-yawm. Dalam bahasa Arab, itu berarti panjang sekali. Karena itu, hari penuh derita disebut sebagai hari-hari yang panjang atau berhari-hari, meski cuma sehari.

Bagi orang Arab jahiliyyah, dahr juga dipahami sebagai siang dan atau malam dalam wujudnya yang hampir mitis karena dahr menelan semuanya, menjadi penyebab kebahagiaan duniawi dan khususnya penderitaan duniawi. Ad-dahr adalah penentu kematian dan takdir. Dahr senantiasa bergerak; mengubah segala sesuatu, dan tidak satupun mampu menghentikannya. Dahr adalah waktu dalam arti manifestasi nasib (manûn) yang kekuatan destruktifnya diharapkan oleh Arab jahiliyyah menimpa Nabi Muhammad saw.: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya (rayb al-manûn)(QS. ath-Thûr/52: 30). Ketika takdir yang sudah ditetapkan mendekati masa ajal yang tidak bisa dihindari, waktu mengekspresikan transiensi segala hal, membawa nasib baik kesukuan atau menyebabkan kematian seorang sahabat atau saudara.

Bagi orang Arab jahiliyyah, dahr seperti busur yang tidak pernah gagal mengena sasarannya. Dahr mengayun seperti seperti nasib, ia dapat ditransendensi oleh sebuah momen yang terekam dalam ingatan kesukuan, kerapkali dilanggengkan dalam puisi sebagai salah satu zaman yang memerangkap pikiran manusia.

Pandangan jahiliyyah tentang waktu yang disebut dahr ini ditentang oleh al-Qur’an dan disebut sebagai kekafiran Arab karena mereka meyakin bahwa: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (dahr)(QS. al-Jâtsiyah/45: 24). Di zaman jahiliyyah, tidak ada kebangkitan atau kehidupan setelah kematian. Karena masyarakat jahiliyyah, seperti disebutkan oleh Ibn `Uyaynah, meyakini bahwa dahr lah yang membinasakan mereka, menghidupan dan mematikan mereka.

Dalam tradisi Islam, masa lalu dalam makna ad-dahr, tidak lagi merupakan kesirnaan yang punah bersama-sama dengan berlalunya hari yang membangkitkan perasaan kehilangan dan penyesalan atas apa yang telah lewat. Namun, segala tindakan yang dilakukan pada masa lalu menjadi wujud yang tetap, hidup, dan terpelihara dalam buku catatan tindakan. “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (QS. al-Isrâ/17: 13-14). Ayat dengan nada yang serupa bisa ditemui pada QS. al-Mujâdilah/58: 6, QS. Al-Kahf/18: 49, QS. Yâsîn/36: 12, dan sebaginya.

Jika masa depan orang Arab Jahiliyyah berakhir di tangan ad-dahr  yang berisikan problem perjalanan hidup dan kegelisahan eksistensial dan karena itu penuh dengan sikap pertanyaan, keraguan, pesimisme mutlak, kekhawatiran akan hal yang tidak diketahui, dan ketidakberdayaan di hadapan kejamnya kesirnaan, maka al-Qur’an menggantinya dengan optimisme dan keimanan terhadap keabadian. Di hadapan keabadian mutlak ini, yang merupakan sumber segala wujud, kegelisahan terhadap hal yang tidak diketahui (kesirnaan dan kehancuran) berubah menjadi kerinduan terhadap hal yang diketahui (karunia keabadian).

Karena itu, al-Qur’an menawarkan konsep ad-dahr yang berbeda dari yang dipahami orang Arab jahiliyyah. Sebuah konsep ad-dahr yang terbebaskan dari makna-makna penderitaan dan kesusahan karena dihubungkan dengan ide tentang keabadian. Kehidupan diisi dengan tujuan-tujuan wujud sehingga kegelisahan terhadap hal yang tidak diketahui pun berubah menjadi kerinduan terhadap hal yang diketahui. Karenanya, ad-dahr dalam konsep al-Qur’an tidak lagi mengandung pengertian penderitaan. Firman Allah: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (QS. al-Insân/76: 1-3).

Kata ad-dahr dalam ayat ini dipergunakan bagi zaman yang tidak dibebani dengan makna-makna penderitaan dan kematian sebagaimana dipahami orang Arab jahiliyyah. Ayat ini menceritakan bahwa manusia telah melewati masa di mana waktu itu ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut, malah dilupakan dan tidak mendapatkan perhatian karena masih dalam bentuk yang sangat dini untuk disebut manusia atau bisa juga ayat ini berarti ketika bumi ini masih kosong dari manusia sehingga manusia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Kita sama sekali tidak menemukan ungkapan atau makna penderitaan dalam ayat ini.

Yang kita temukan dalam ayat ini adalah bahwa waktu itu harusnya diisi dan karena itulah manusia bisa “disebut”. Bagi yang melihat waktu sebagai sesuatu yang dinamis, waktu didasarkan pada prinsip-prinsip perubahan (kejadian-kejadian yang membentuknya tidak dapat diulang) dan kreativitas yang konstan. Karena itu, waktu itu harus kretif: jika waktu tidak mempunyai daya cipta, maka itu berarti sama sekali bukan waktu. Dalam waktu yang sesungguhnya, setiap momen baru secara kualitatif berbeda dengan momen sebelumnya.

Bahan Bacaan

Cavallaro, Dani, Teori Kritis dan Teori Budaya, (Yogyakarta: Niagara, 2004)

Effat Al-Syarqawi, Filsafat Kebudayaan Islam, (Bandung: Pustaka, 1986)

Gerhard Böwering, “Gagasan Tentang Waktu dalam Sufisme Persia”, dalam Leonard Lewisohn, et all. (ed.) Warisan Sufi: Sufisme Persia Klasik dari Permulaan hingga Rumi (700-1300), (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002)

Karen Arsmstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam Selama 4.000 Tahun, (Bandung: Mizan, 2001)

http://www.moqatel.com

(Tulisan ini adalah bagian dari artikel untuk Jurnal Bimas Islam Depag RI edisi terakhir)

Share this post

Submit to FacebookSubmit to Twitter
bannerMuballihgMuballighah